
BANGKALAN — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) di tingkat nasional. Dita Herlina, mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Trunodjoyo Madura, berhasil meraih Juara 3 Nasional Lomba Media Edukasi Digital dalam rangka memperingati HUT ke-30 Persatuan Terapis Gigi dan Mulut Indonesia (PTGMI).
Kompetisi nasional tersebut mengusung tema “3 Dekade PTGMI Melayani: PTGMI Hebat, Indonesia Kuat” dan mempertemukan peserta dari berbagai daerah serta latar belakang, termasuk tenaga kesehatan, terapis gigi dan mulut, dokter gigi, hingga akademisi bidang kesehatan.
Di tengah persaingan tersebut, Dita yang berasal dari bidang pendidikan sains justru mampu membawa inovasi edukasi kesehatan gigi dan mulut hingga menempati posisi tiga besar nasional.
Capaian tersebut menjadi semakin menarik karena karya yang diperlombakan tidak sekadar mengandalkan tampilan digital. Dita merancang sendiri konsep, alur pembelajaran, serta pengalaman pengguna dalam media edukasi yang dikembangkannya.
Berawal dari Mahasiswa Pendidikan IPA, Hadirkan Inovasi Edukasi Kesehatan Gigi
Sebagai mahasiswa Pendidikan IPA, Dita memiliki latar belakang yang erat dengan proses pembelajaran dan penyampaian konsep-konsep sains. Hal tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dalam merancang DENTAVIA agar materi kesehatan gigi tidak disampaikan secara konvensional, tetapi dikemas menjadi pengalaman belajar yang interaktif.
Dita merancang bagaimana pengguna pertama kali masuk ke dalam platform, mengenal gigi dan fungsinya, memahami penyebab gigi berlubang, belajar mengenai kebiasaan menjaga kesehatan gigi, hingga mengenal suasana pemeriksaan di klinik gigi.
Setiap tahapan dirancang memiliki tujuan edukatif sekaligus dibuat saling terhubung sehingga pengguna tidak hanya membaca materi, tetapi belajar melalui eksplorasi, permainan, simulasi, dan penyelesaian misi.
“Konsepnya saya rancang agar edukasi kesehatan gigi tidak terasa seperti sedang membaca materi kesehatan. Pengguna diajak masuk ke dalam sebuah perjalanan, mulai dari mengenal gigi, memahami apa yang menyebabkan kerusakan gigi, belajar cara merawatnya, sampai mengenal lingkungan dokter gigi,” jelas Dita.
DENTAVIA, Perjalanan Edukasi Kesehatan Gigi dalam Bentuk Digital
Konsep tersebut kemudian diwujudkan melalui DENTAVIA (Digital Interactive Oral Health Adventure), sebuah media edukasi kesehatan gigi dan mulut berbasis web yang memadukan gamifikasi, pembelajaran interaktif, simulasi, dan kecerdasan buatan.
Dita menyusun DENTAVIA layaknya sebuah perjalanan edukasi. Pengguna tidak langsung diberikan materi dalam bentuk teks panjang, tetapi diarahkan untuk menyelesaikan sejumlah zona dan misi.
Perjalanan dimulai dari Tooth Town, tempat pengguna diperkenalkan dengan anatomi dan bagian-bagian gigi, seperti email, dentin, dan pulpa. Setelah memahami struktur gigi, pengguna kemudian diajak melihat bagaimana masalah pada gigi dapat terjadi melalui Bacteria Lab Game.
Di zona tersebut, pengguna diperkenalkan pada peran bakteri dalam pembentukan plak dan proses yang dapat menyebabkan kerusakan gigi apabila kebersihan mulut tidak dijaga.
Setelah memahami penyebabnya, perjalanan berlanjut ke Brush Station. Pada tahap ini, pengguna mendapatkan simulasi mengenai cara menyikat gigi yang benar selama dua menit serta informasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan sela-sela gigi.
Selanjutnya, melalui Food Zone, pengguna diajak belajar mengenali pilihan makanan dengan permainan memilah makanan yang berpotensi meningkatkan risiko karies dan makanan yang lebih mendukung kesehatan gigi.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Dental Clinic Adventure. Pada bagian ini, Dita memasukkan unsur simulasi untuk memperkenalkan suasana klinik dan berbagai peralatan yang dapat ditemui saat melakukan pemeriksaan gigi.
Alur tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman yang bertahap: mengenal gigi, memahami masalah, mengetahui cara mencegah, membangun kebiasaan, hingga mengenal lingkungan pelayanan kesehatan gigi.
Tidak Hanya Mendesain Tampilan, Dita Merancang Alur Belajarnya
Salah satu kekuatan DENTAVIA terletak pada bagaimana setiap fitur ditempatkan dalam satu alur pembelajaran yang utuh.
Dita tidak hanya merancang tampilan antarmuka atau menentukan bentuk permainan, tetapi juga memikirkan apa yang harus dipelajari pengguna pada setiap tahapan, bagaimana pengguna berpindah dari satu misi ke misi berikutnya, serta bagaimana pembelajaran dapat diberikan tanpa membuat pengguna merasa sedang mengikuti pembelajaran formal.
Pendekatan tersebut menjadi ciri utama DENTAVIA sebagai media edukasi yang menggabungkan perspektif pendidikan dengan teknologi digital.
Setelah pengguna menyelesaikan berbagai misi, DENTAVIA memberikan penghargaan berupa sertifikat digital “Dentavia Hero” sebagai bentuk apresiasi dan motivasi.
Dita juga menghadirkan Dentie AI, fitur asisten berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu pengguna memperoleh informasi awal mengenai kesehatan gigi dan mulut dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.
Fitur tersebut diposisikan sebagai media edukasi dan informasi awal, bukan sebagai pengganti diagnosis atau konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan.
Dinilai oleh Dewan Juri Nasional
Inovasi yang dirancang Dita tersebut kemudian dinilai dalam kompetisi tingkat nasional yang melibatkan dewan juri dari berbagai institusi kesehatan dan pendidikan kesehatan.
Sejumlah juri yang terlibat antara lain drg. Antony Azarsyah, M.K.M. dari Direktorat Penyakit Tidak Menular, Ditjen P2P Kementerian Kesehatan RI; Dr. Bambang Sutomo, S.Si.T., M.Kes. dari Kolegium Terapis Gigi dan Mulut; Dr. Yonan Heriyanto, M.Kes. dari AIPKGI; Tri Budi Gunawan, S.Pd., M.K.M. dari BBPK Ciloto Kemenkes RI; serta Yuga Afrizal Ruhyat Nur, A.Md.Kg., SKM. dari Dewan Pengurus Pusat PTGMI.
Di hadapan para juri tersebut, DENTAVIA berhasil membawa Dita masuk dalam tiga besar nasional.
Kolaborasi Pendidikan, Sains, dan Teknologi
Menurut Dita, pengembangan DENTAVIA menjadi pengalaman yang mempertemukan bidang pendidikan, sains, kesehatan, dan teknologi.
Latar belakangnya sebagai mahasiswa Pendidikan IPA menjadi dasar dalam menyusun bagaimana konsep-konsep kesehatan gigi dapat diterjemahkan menjadi materi yang lebih mudah dipahami. Sementara teknologi digital digunakan sebagai media untuk membuat proses belajar menjadi lebih interaktif.
“Bagi saya, DENTAVIA bukan hanya tentang membuat sebuah website atau game edukasi. Saya mencoba merancang bagaimana seseorang bisa belajar kesehatan gigi melalui sebuah alur yang menyenangkan dan mudah diikuti,” ujar Dita.
Prestasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa inovasi bidang kesehatan tidak selalu harus lahir dari mahasiswa atau profesional yang berlatar belakang kesehatan. Dengan pendekatan multidisiplin, mahasiswa dari bidang pendidikan dan teknologi juga dapat mengambil peran dalam menghadirkan media edukasi kesehatan yang kreatif.
Mahasiswa UTM Unjuk Karya di Tingkat Nasional
Raihan Juara 3 Nasional dalam ajang HUT ke-30 PTGMI menjadi pencapaian membanggakan bagi Dita Herlina dan Universitas Trunodjoyo Madura.
Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa mahasiswa dari perguruan tinggi di daerah mampu menghadirkan inovasi dan bersaing di tingkat nasional, bahkan dalam kompetisi yang mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang profesional.
Melalui DENTAVIA, Dita menunjukkan bahwa perpaduan antara pendidikan, sains, kreativitas, dan teknologi dapat menghasilkan media pembelajaran yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki tujuan edukatif dan potensi manfaat bagi masyarakat.
Ke depan, DENTAVIA diharapkan dapat terus dikembangkan agar semakin matang sebagai media edukasi kesehatan gigi dan mulut serta dapat dimanfaatkan oleh sekolah, keluarga, maupun tenaga kesehatan dalam mendukung edukasi kesehatan bagi generasi muda.
