Bangkalan – Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) masuk dalam jajaran 10 besar perguruan tinggi nasional dengan jumlah desa dampingan terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia, UTM tercatat memiliki 246 desa dampingan pada 2025, menempatkannya di peringkat ke-10 nasional.
Capaian tersebut disampaikan dalam kegiatan Rapat Koordinasi Nasional Forum Perguruan Tinggi dalam Pemberdayaan Masyarakat yang berlangsung pada Kamis, 15 Oktober 2026, di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Kegiatan ini mengusung tema “Sinergi Implementasi Tridharma dalam Pemberdayaan Masyarakat yang Inklusif, Berdampak, dan Berkelanjutan.” Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia.
Dalam daftar 10 perguruan tinggi dengan desa dampingan terbanyak yang ditampilkan pada kegiatan tersebut, UTM berada di antara sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Data itu mencatat realisasi tahun 2025 sekaligus rencana pengembangan desa dampingan hingga 2029. Untuk UTM, jumlah desa dampingan direncanakan meningkat menjadi 250 desa pada 2029.
Capaian ini menunjukkan peran perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada kebutuhan dan potensi lokal.
LPPM UTM: Pemberdayaan Harus Memberikan Dampak Nyata
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UTM, Dr. Iskandar Dzulkarnain, S.Th.I., M.Si., menyampaikan bahwa capaian tersebut menjadi motivasi bagi UTM untuk terus memperkuat kontribusinya dalam pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat.
“Capaian ini menjadi penyemangat bagi UTM untuk terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat. Bagi kami, pendampingan desa tidak hanya tentang jumlah desa yang terlibat, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kehadiran perguruan tinggi mampu memberikan dampak nyata, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan mendorong kemandirian desa,” ujarnya.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik, hasil penelitian, inovasi teknologi, serta kapasitas sumber daya manusia yang dapat dioptimalkan untuk membantu masyarakat menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Oleh karena itu, LPPM UTM terus mendorong agar kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat semakin terintegrasi. Hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab persoalan masyarakat, mengembangkan potensi ekonomi lokal, serta memperkuat keberlanjutan pembangunan desa.
“UTM berkomitmen menghadirkan program pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan potensi daerah. Sinergi dosen, mahasiswa, pemerintah desa, pemerintah daerah, serta mitra lainnya perlu terus diperkuat agar program yang dilaksanakan tidak bersifat sesaat, melainkan memberikan manfaat berkelanjutan,” tambahnya.
Memperkuat Pembangunan Desa Berbasis Potensi Lokal
Sebagai perguruan tinggi yang berada di Madura, UTM memiliki peluang strategis untuk berkontribusi dalam pengembangan desa melalui pendekatan berbasis kearifan lokal. Berbagai potensi wilayah, mulai dari pertanian, kelautan, perikanan, garam, ekonomi kreatif, hingga pengembangan usaha masyarakat, dapat menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Melalui LPPM, UTM berupaya memperkuat pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat agar lebih terarah, kolaboratif, dan berkelanjutan. Pendampingan desa diharapkan mampu mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, meningkatkan keterampilan masyarakat, serta membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.
Masuknya UTM dalam 10 besar nasional juga menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas pendampingan. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya desa yang didampingi, tetapi juga dari perubahan positif yang dirasakan masyarakat, peningkatan kapasitas kelembagaan desa, penguatan ekonomi lokal, dan keberlanjutan hasil program.
Dengan capaian 246 desa dampingan pada 2025 dan rencana peningkatan menjadi 250 desa pada 2029, UTM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi Tridharma Perguruan Tinggi dalam pembangunan masyarakat.
Melalui kolaborasi yang inklusif dan berkelanjutan, UTM berharap dapat terus berkontribusi dalam mewujudkan desa yang mandiri, produktif, dan sejahtera, sekaligus memperluas dampak positif perguruan tinggi bagi pembangunan Indonesia. (Salman)
