Mahasiswa PPG UM Kelas IPS-002 mengikuti kegiatan Wawasan Kebinekaan Global (WKG) di Ruang 409 Gedung A21 Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Rabu (3/6/2026).
Kota Malang – Semangat kebhinekaan dan toleransi mewarnai pelaksanaan kegiatan Wawasan Kebinekaan Global (WKG) yang diselenggarakan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Negeri Malang (UM) pada 2–4 Juni 2026. Sebanyak 25 mahasiswa PPG Kelas IPS-002 mengikuti rangkaian kegiatan pada hari kedua, Rabu (3/6/2026), yang berlangsung di Ruang 409 Gedung A21 Pascasarjana UM.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari ini menjadi ruang belajar yang bermakna bagi para calon guru untuk memahami, menghayati, dan mempraktikkan nilai-nilai keberagaman, toleransi, serta perdamaian dalam kehidupan sehari-hari maupun lingkungan pendidikan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test guna mengukur pemahaman awal peserta terhadap materi yang akan dipelajari. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi pertama yang berlangsung pukul 07.00–12.00 WIB bersama narasumber Dr. Alfyananda Kurnia Putra, S.Pd., M.Pd. Pada sesi ini, peserta mendapatkan materi bertajuk Dunia yang Berwarna, Indonesia yang Harmoni, dan Damai Dimulai dari Diri.
Dalam materi Dunia yang Berwarna, peserta dibagi ke dalam kelompok kecil yang terdiri atas lima orang. Mereka diminta menjawab sejumlah pertanyaan sederhana menggunakan sticky notes, seperti kebiasaan mengaduk bubur, mematikan lampu saat tidur, hingga jenis musik yang disukai. Peserta yang memiliki jawaban berbeda dari mayoritas anggota kelompok diberikan tanda bintang pada tangannya.
Melalui aktivitas tersebut, peserta diajak merefleksikan bagaimana individu yang berbeda sering kali menerima pelabelan (labeling) dari lingkungan sekitarnya. Kegiatan ini menegaskan bahwa perbedaan merupakan sesuatu yang wajar dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memberikan stigma negatif kepada orang lain. Sebaliknya, keberagaman perlu dipandang sebagai kekuatan yang memungkinkan masyarakat hidup berdampingan secara harmonis dengan saling menghormati dan menghargai.
Suasana kelas semakin dinamis saat memasuki materi Indonesia yang Harmoni. Dalam sesi ini, peserta dibagi menjadi dua kelompok besar yang berperan sebagai tim pro dan kontra dalam sebuah simulasi debat. Skenario yang diangkat menceritakan dua kelompok masyarakat, yaitu Suku Wiwi dan Suku Wowo, yang memiliki tempat ibadah berdampingan. Di antara kedua tempat ibadah tersebut, pemerintah berencana membangun sumber air yang dinilai dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Perdebatan muncul terkait pilihan untuk memindahkan atau mempertahankan tempat ibadah di lokasi tersebut. Simulasi debat berlangsung aktif dan penuh argumentasi. Setiap kelompok berupaya mempertahankan pandangannya dengan alasan yang logis dan kritis. Melalui kegiatan ini, peserta belajar bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat yang dapat diselesaikan melalui dialog, musyawarah, dan sikap saling menghormati.
Materi berikutnya, Damai Dimulai dari Diri, mengajak peserta merefleksikan bahwa perdamaian tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan aturan, tetapi juga berawal dari sikap individu. Nilai-nilai seperti empati, penghormatan terhadap perbedaan, serta kemampuan membangun komunikasi yang baik menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan yang damai dan inklusif.
Setelah sesi pagi berakhir, peserta melaksanakan Istirahat, Sholat, dan Makan (ISHOMA) pada pukul 12.00–13.00 WIB. Pihak PPG Universitas Negeri Malang juga menyediakan konsumsi bagi seluruh peserta sehingga kegiatan dapat berlangsung dengan nyaman dan kondusif.
Memasuki sesi kedua pada pukul 13.00 WIB, peserta mendapatkan materi Sekolahku Bineka dan Sekolahku yang Damai yang disampaikan oleh Dr. Mardhatillah, S.Pd.I., M.Pd.
Pada materi Sekolahku Bineka, peserta mengikuti kegiatan role play atau bermain peran dalam kelompok. Setiap kelompok memperoleh topik berbeda dan diminta menyusun drama singkat yang menggambarkan berbagai persoalan keberagaman di lingkungan sekolah. Dalam simulasi tersebut, peserta memerankan berbagai tokoh yang memiliki peran penting dalam dunia pendidikan, seperti kepala sekolah, pejabat dinas pendidikan, guru, orang tua, hingga peserta didik.
Melalui kegiatan ini, peserta belajar memahami beragam sudut pandang serta pentingnya komunikasi dan kolaborasi dalam membangun lingkungan sekolah yang inklusif dan menghargai keberagaman.
Sementara itu, pada materi Sekolahku yang Damai, peserta mengikuti permainan edukatif menggunakan kartu yang terdiri atas unsur ancaman, kerentanan, dan kapasitas. Secara bergantian, anggota kelompok mengambil kartu sesuai instruksi yang diberikan, kemudian menganalisis serta menghitung tingkat risiko berdasarkan kombinasi kartu yang diperoleh.
Dari simulasi tersebut, peserta diperkenalkan pada konsep bahwa risiko diperoleh dari hasil perkalian ancaman dan kerentanan yang kemudian dibagi dengan kapasitas. Melalui aktivitas ini, peserta memahami bahwa penguatan kapasitas individu maupun kelompok menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko konflik dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, serta damai.
Menjelang akhir kegiatan, seluruh peserta mengikuti sesi refleksi untuk mengulas kembali berbagai pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh selama mengikuti WKG. Beragam aktivitas yang dikemas secara interaktif, mulai dari diskusi, permainan, debat, hingga simulasi peran, memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya memperkaya wawasan tentang kebhinekaan global, tetapi juga menumbuhkan sikap toleransi, empati, dan kemampuan bekerja sama di tengah keberagaman.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pelaksanaan post-test sebagai bentuk evaluasi terhadap pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran.
Pelaksanaan Wawasan Kebinekaan Global di Kelas IPS-002 berlangsung lancar, tertib, dan penuh antusiasme. Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi 25 mahasiswa PPG sebagai calon pendidik yang kelak akan berhadapan dengan peserta didik dari berbagai latar belakang budaya, agama, bahasa, maupun karakter.
